TANYALAH HATI NURANIMU

Rasulullah SAW bersabda; "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

MENGAPA AKU BELAJAR AL-QURAN?

Rasulullah SAW bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. - Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Quran itu pada hari Kiamat akan memberikan syafa’at kepada pembacanya" [HR. Bukhari - Muslim]

RAHASIA DI SEKITAR DUNIA IBUKU

Rasulullah SAW bersabda; "Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah engkau dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

SUDAH BAIKKAH SHALATKU?

Rasulullah SAW bersabda: "Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya." [HR. At-Thabrani - Dari Anas RA]

AJARI KAMI ILMU YANG BAIK

Rasulullah SAW bersabda; "Mendidik anak lebih baik bagimu daripada setiap hari bersedekah satu sha - Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama daripada (pendidikan) akhlak yang baik." [HR. At-Tirmidzi Dari Jabir bin Samurah r.a dan Amr bin Sa’id bin Ash r.a]

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sufi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

KEJUJURAN SANG IMAM




Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual.

Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka, dengan maksud agar kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,” tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri. “Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

“Berapa harganya?” tanyanya sambil memandangi pakaian itu. "Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”

Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

“Sayang sekali.” perempuan itu tampak kecewa. “Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?” “Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”
“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,” katanya.

“Tidak apa-apa, terima kasih,” sahut Imam Hanafi tetap tersenyum.

Di dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali.

Imam Hanafi lalu menghampirinya. “Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”

"Memang, saya pun sangat menyukainya.” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. “Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,” katanya lagi.

Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, "saya akan menghadiahkannya untuk ibu,” kata Imam Hanafi.

“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”

“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”
Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar.
Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu. “Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk.

Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian. Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,”kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.
“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.” sahabatnya sangat menyesal.

Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya,” ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,”
ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya.

Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh. “Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya?” tanyanya.

“Tidak,  Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.

Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.

Jumat, 23 Juli 2010

PENGALAMAN BELAJAR SYAIKH AL-BAGHDADI




Pada suatu hari, Syaikh Junayd al-Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Dan para murid-murid pun ikut mengiringinya.

Shaykh bertanya kepada murid-muridnya, "bagaimana kabar Bahlul yang gila itu?"

Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?” 
“Bawalah aku ke tempat dia, karena aku ada keperluan khusus dengannya."
Mematuhi perintah sang guru, para murid kemudian berkeliling mencari Bahlul dan akhirnya menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Shaykh Junayd kepadanya.

Ketika Shaykh Junayd pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (Sedang tiduran?).

Shaykh mengucapkan salam kepadanya dan Bahlul menjawab salamnya dan kemudian bertanya: 
“Anda siapa? ” 

”Saya Junayd Baghdadi.” Jawab sang Syaikh.

Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qasim?”

“Ya, betul!” jawab Syaikh.

Bahlul bertanya lagi: "Apakah Anda Shaikh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ” 

“Ya, betul!” jawab Syaikh Baghdadi.

Kemudian Bahlul bertanya: ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?” 

Syaikh Baghdadi menjawab: “Ya!” Saya membaca Basmallah (Dengan menyebut nama Allah SWT). Saya mengambil makanan yang paling dekat dengan saya, saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyahnya pelan-pelan. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.” 

Bahlul berdiri, mengibaskan pakaiannya pada Syaikh, dan kemudian berkata:
"Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia, tapi Anda sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara makan yang benar!”

Dan, setelah mengucapkan kata-kata tersebut, dia langsung pergi meninggalkan sang Syaikh.
Para Murid Syaikh berkata, “O, Syaikh! Sungguh dia itu orang yang gila!” 

Syaikh menjawab: "Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berbicara, jadi dengarkan dan simaklah pernyataan yang benar darinya". Setelah mengucapkan kata-kata nasihat untuk muridnya, kemudian Syaikh Baghdadi pergi menyusul dan membuntuti dibelakang Bahlul yang terus berjalan, seraya berkata;

”Saya ada perlu dengan Bahlul.” Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia akhirnya duduk. 
Junayd pun mendekatinya dan kemudian ikut duduk di depannya. 

Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?” 

Syaikh menjawab: ”Syaikh Baghdadi yang bahkan tidak mengetahui bagaimana cara makan.” 

Bahlul pun meneruskan kalimatnya: 
”Anda tidak mengetahui bagaimana cara makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana cara berbicara?” 

“Ya, tentu ..!” 

Bahlul bertanya lagi: ”Bagaimana anda berbicara ?” 

”Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti apa yang saya sampaikan. Saya mengajak semua orang di dunia untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga membuat semua orang menjadi bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum."

Kemudian sang Syaikh menggambarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Adab dan etika. 

Bahlul berkata, “Lupakanlah soal makan, apalagi Anda pun tidak mengetahui bagaimana cara berbicara!” 

Bahlul kemudian berdiri, dan lagi-lagi mengibaskan pakaiannya pada Shaykh dan langsung pergi meninggalkan sang Syaikh yang penasaran. 

Para murid berkata, “O, Syaikh! Anda lihat bukan?, dia memang orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila?” 

Syaikh berkata, ”Saya ada keperluan dengan dia. Kalian tidak tahu!” Sekali lagi Beliau pergi menyusul Bahlul hingga mendapatkan orang yang dicarinya. 

Saat untuk kesekian kalinya keduanya bertemu, lagi-lagi Bahlul bertanya kepada Syaikh Baghdadi: 
“Apa yang sesungguhnya Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?” 

” Ya, saya tahu!” 

”Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya.

Syaikh Junaid menjawab: ”Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.” 

Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari para ulama yang menjadi guru-gurunya di bidang agama. 

Bahlul kemudian berkata: ”Saya mengerti bahwa Anda juga tidak mengetahui bagaimana cara untuk tidur!” 

Dia ingin berdiri, namun Junayd dengan sigap memegang pakaian sang musafir dan berkata: "Wahai Bahlul! Saya tidak mengetahuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT, mohon ajarilah saya". 

Bahlul berkata: 
"Anda mengklaim diri sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. Sekarang karena Anda mengakui ketidak-tahuan Anda, maka saya akan mengajari Anda.” [Dari: Darisrajih.wordpress. (dengan penambahan seperlunya)]

Inilah nasihat dari Bahlul ...
“Mengetahui apapun yang Anda utarakan itu tidaklah penting.”
”Kebenaran di balik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, meskipun dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, bahkan bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.!”

”Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Syaikh.
Bahlul melanjutkan nasihatnya ...
"Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. Dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika menyangkut segala urusan duniawi atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah sikap yang terbaik.”

“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting!".

"Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika hendak tidur".
Shaykh Junayd kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk-nya.

Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang selama ini telah benganggap bahwa Bahlul adalah orang gila, melupakan segala prasangkanya dan bertekad untuk memulai hidup baru.

RENUNGAN MORAL:
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah diatas adalah bahwa jika seseorang tidak mengerti tentang sesuatu perkara, maka sudah seharusnya dia tidak malu untuk belajar; seperti Shaykh Junayd yang telah belajar Adab makan, bicara, dan tidur kepada Bahlul yang dianggap sebagai orang gila.

Kamis, 22 Juli 2010

HORMAT, CINTA DAN RENDAH HATI





Ahmad al-Badawi adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi. Beliau menyatakan "Aku tidak membutuhkan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Qur',an sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, dan cara hidup Rasulullah SAW.


Beliau mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda atas nama Tuhannya,

"Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya. Dan bila Aku Mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika dia meminta, Aku akan memberi. Jika dia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dia, dan dia dapat mengatakan kepada sesuatu, "Jadilah!" maka jadilah ia."
( Hadist Nabi saw )

(Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadits tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap).

Ahmad al-Badawi berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Kehadirat Ilahi, lalu dia berkata, "Ya Tuhanku! Bukakanlah pintu ini untukku." Tetapi dia tidak mendapat jawaban. Dia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya 
secara tidak sengaja dia bertemu dengan seseorang. Saya sebut "tidak sengaja" padahal sebetulnya itu sudah menjadi Kehendak Allah untuk mengujinya. Dia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa saja. 

Orang itu lalu memanggilnya, "Hei Ahmad!", bahkan tidak menyebutnya dengan panggilan "Syaikh Ahmad", sebagai tanda penghormatan. 

Dia berkata, "Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai kehadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika Kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu".

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau kenyataan karena merasa bangga terhadap ilmunya, walaupun dia tahu sebenarnya itu adalah jalan yang benar. Mereka tidak menerima sebab ego mereka mengatakan, "tidak!"

Ego Syaikh Ahmad berkata kepadanya, "Bagaimana mungkin Engkau menerima sesuatu darinya? Jangan menerima kunci darinya. Terimalah langsung dari Tuhan."Lalu dia berkata, "Wahai Saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang Pembuat Kunci. Siapa Engkau. Engkau bukan siapa-siapa."

Selanjutnya Ahmad Badawi berusaha untuk mencapai Kehadirat Ilahi sampai dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya,

"Wahai Ahmad, kehidupan ini adalah kehidupan yang berisi sebab dan akibat. AKU tidak akan memberimu kunci. Sesuai Kehendak-KU, kunci untukmu berada pada orang itu. Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya."


Sekarang persoalannya sudah selesai. Dia mendengarnya langsung dari Tuhannya, dan dia menerimanya. Sekarang dia harus mencari pemandunya. Tetapi sang pemandu telah lenyap. Dia telah meninggalkannya.

Selama enam bulan kemudian, pemandu itu mengamati hati Ahmad secara rahasia, melihat bahwa dia mencarinya dan berdo'a kepada Tuhan siang dan malam, "Ya Tuhanku ..., kirimkanlah orang itu kembali kepadaku", sampai akhirnya dia bisa menemukannya kembali.

Dengan segera orang itu membuka tabir yang ada pada dirinya selama ini.

Jadi sang pemandu membuka tabir dan menampakkan dirinya di hadapan Ahmad. Ahmad berkata, "Wahai Syaikh-ku! Aku menemukanmu." 


Dia tidak menemukannya tetapi pada hakekatnya, sang pemandulah yang menghilangkan tabirnya. Tetapi tetap saja dia berpikir bahwa dia telah menemukannya. Dia berkata, "Wahai Syaikhku, Aku menerimamu sebagai pemanduku".

Sang pemandu menjawab, "Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang, engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku. Engkau tidak diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku. Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah pondasi yang lemah yang hanya dengan satu tiupan angin dari ego, dia akan jatuh".

Aku harus membangun pondasi yang kuat bagimu. Jadi, lihatlah ke dalam mataku. (Ahmad Badawi melihat ke matanya dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi, pengetahuan yang berasal dari buku-buku).

Pengetahuan melalui buku-buku maksudnya ada banyak hal yang berasal dari ego si penulis.

Maka dia menghilangkan pengetahuan itu dari hati Ahmad dan kemudian lenyap. Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan kalimat, "Bismillahir rahmaanir rahiim." Ya! sampai-sampai Syaikh Ahmad Badawi pun tidak mengetahui bagaimana mengucapkan Nama Allah.

Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi, yang kelihatannya seperti orang gila setelah sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka.

Karena keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka berpikir bahwa dia benar-benar sakit. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa dia mengikuti seseorang yang membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi tahu bahwa dia telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa,"Kuncimu ada pada orang itu".

Tidak ada yang membuatnya gila. Dia mengikuti orang itu.

Tetapi bila dia menerimanya sejak awal, ketika pemandu itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah, dia tidak harus melewati ujian ini. Jadi mengapa kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang sama? Bila kalian menemukan kebenaran, seorang pemandu yang benar, terimalah dia dengan segera! Jangan bermain-main dengan ego kalian.

Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul kembali di waktu yang lain. Dalam kurun waktu tersebut Ahmad al-Badawi terus mencarinya dan ketika dia bertemu kembali, Ahmad al-Badawi berkata, "Wahai Syaikhku, Aku menemukanmu lagi."

Saat itu sang pemandu memandang mata Ahmad al-Badawi dan memancarkan sesuatu dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi melalui matanya. Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan internal, pengetahuan dari Kitab Allah dan rahasia-rahasianya.

Pemandu itu melakukannya 3 kali sampai mata Ahmad al-Badawi memancarkan sinar yang begitu kuat bahkan orang tidk akan kuat melihat matanya. Oleh sebab itu dia menutup wajahnya dengan cadar. Saat itulah dia bisa memasuki Kehadirat Ilahi dan dia menerima kuncinya.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Kehadirat Nya. Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad al-Badawi adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal. Dia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Dia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Maha Tinggi. Dia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan.

Bagaimana mungkin dia akan mengambil pelajaran dari orang lain? Berarti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya. Dia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah. Dia mempunyai rasa hormat, dia juga mencintai sesamanya, tetapi dia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain. Dan karena dia telah kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah dia tidak mengalami kemajuan lagi.

Seorang Wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati.

Jika kalian melihat salah satunya tidak ada, maka dia bukanlah seorang pemandu sejati. Dia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi yang bisa mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa membukanya. Dia membutuhkan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika ditemukan dia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya. Dia terlalu banyak memikirkan dirinya. Akhirnya dia menerima juga setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi dia harus melewati ujian tertentu. Jika pada mulanya dia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun.
Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan egomu. Katakan kepada ego, "Kau salah! Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru?"

Kalian tidak akan kehilangan apa pun. Bila kalian menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah untuk menaikkan kalian. Jika Saya datang dan mengatakan, "Si Fulan dan si Fulan" adalah Syaikh Saya, dan Saya telah berbay'at dengannya. Apa salahnya? Saya menerimanya dan Saya menunjukkan kerendahan hati, Allah akan menaikkan Saya.

Memiliki sifat rendah hati adalah sangat penting
Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagimu. Ada sebuah peribahasa di Turki yang berupa pertanyaan kepada seseorang yang baik, "Dari mana Engkau belajar perilaku yang sempurna dalam masyarakat?"
jawabnya, "Dari orang-orang yang bersalah"!.

Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku bisa memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain."

Seorang pencari kebenaran ibarat seorang yang mencari mata air di padang pasir yang luas. Sejauh mata memandang hanya tampak hamparan pasir yang membakar. Namun kekuatan hatinya memandunya untuk selalu maju walaupun hanya dengan setitik harapan.


Wujud Tuhan hanya tampak keberadaannya dalam keyakinan hamba-hamba-NYA.

Rabu, 14 April 2010

TELADAN DARI SEORANG IMAM




Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. Ulama ahli hukum Islam itu pun di penjara. Sang penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat.

Dalam penjara, ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan ibunya.

Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada ibunya. Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama ibunya kembali. 

“Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada?” tanya Abu Hanifah. 

“Alhamdulillah……ibu baik-baik saja,” jawab ibu Abu Hanifah sambil tersenyum. 

Abu Hanifah kembali menekuni ilmu agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukan seorang ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya. 

Suatu hari, ibunya bertanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar. “Aku tak mau mendengar kata-katamu,” ucap ibu Hanifah. “Aku hanya percaya pada fatwa Zar’ah Al-Qas,” katanya lagi.

Padahal Zar’ah Al-Qas adalah ulama yang belajar ilmu hukum Islam kepada Abu Hanifah!

”Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,” pinta ibunya.

Mendengar ucapan ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar ibunya ke rumah Zar’ah Al-Qas.

“Saudaraku Zar’ah Al-Qas, ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat,” kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar’ah Al-Qas. 

Zar’ah Al-Qas terheran-heran kenapa ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ulama? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah. 

“Tuan, Anda kan seorang ulama besar? kenapa Anda harus datang padaku?” tanya Zar’ah Al-Qas.

“Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda,” sahut Abu Hanifah. 

Zar’ah tersenyum,” baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda,” kata Zar’ah Al-Qas akhirnya.

“Ucapkanlah fatwamu,” kata Abu Hanifah tegas. 

Lalu Zar’ah Al-Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah.

Ibu Abu Hanifah bernafas lega. “Aku percaya kalau kau yang mengatakannya,” kata ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar’ah Al-Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah. 

Dua hari kemudian, ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah agama.

Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan ibunya dengan mudah. 

Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya. “Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?” kata Umar bin Zar. 

Abu Hanifah tetap meminta fatwa Umar bin Zar sesuai permintaan ibunya. “Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar,” kata Abu Hanifah.

Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada ibunya. 

“Baiklah, kalau begitu apa jawaban atas pertanyaan ibu Anda?” Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan. 

“Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,” ucap Umar bin Zar sambil tersenyum.

Abu Hanifah pulang membawa fatwa Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan Umar bin Zar. 

Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah ibunya.

Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun beliau seorang ulama yang sangat pintar.


[Dari: Darisraji]